EFISIENSI JUMLAH CREW ? Edisi: July 2006
[Posting: 17-July-2006 11:40]
Oleh: Panji Kusmin (Reporter APFII)
Kadang kadang dalam suatu produksi film iklan, kita sering ditanya oleh pihak klien atau agency mengenai banyaknya jumlah crew yang ada di lokasi atau studio saat itu. Di satu sisi ada kelompok klien dan agency, ada kelompok orang orang art departemen, set konstruksi, pengawal peralatan, grip, kamera, gaffer sampai orang orang yang hanya kelihatan duduk duduk dipojok sambil merokok dan minum minum kopi.Belum ditambah dengan talent, maupun teman atau keluarga pengantar. Tak heran sebuah shooting kadang jadi terlihat seperti sebuah pasar malam dengan banyaknya orang yang hilir mudik. Kalau kita lihat daftar crew list saja, bisa mencapai 50 orang, dengan tambahan orang orang tersebut diatas akhirnya jumlah ini bisa membludak menjadi 80 sampai 100 orang. Sungguh sebuah situasi yang sulit bagi sutradara untuk berkonsentrasi terhadap pekerjaannya dengan adanya keramaian seperti ini. Di lain pihak, para produser juga harus mengalokasikan tambahan untuk konsumsi dan sebagainya.
Pertanyaan dari mereka simple, apakah anda membutuhkan orang sebanyak itu ? Sebenarnya agak susah menjawab pertanyaan tersebut, pertama tidak ada patokan standarisasi jumlah crew yang ideal dalam sebuah shooting. Kadang ada sebuah PH yang bisa melakukan sebuah produksi dengan jumlah crew hanya 15 orang, sementara ada juga yang tetap membutuhkan 50 orang tenaga kerja. Sementara kalau kita lihat di luar negeri, umumnya sebuah produksi iklan hanya dilakukan dengan jumlah orang yang sangat sedikit dan terseleksi. Kita bayangkan saja untuk sebuah produksi normal, untuk tenaga lampu selain ada gaffer, plus 3 orang lightingman, ditambah dengan pengawal lampu dari rental equipment yang bisa mencapai 3 orang, jadi total kita sudah memiliki 7 orang di departemen lampu. Bandingkan dengan sebuah shooting di Thailand yang hanya dilakukan seorang gaffer saja, dengan bantuan tenaga lain untuk mengangkat dan memindahkan lampu lampu tersebut. Bahkan disana seorang produser bisa juga merangkap sebagai line produser, production assistant bahkan asisten sutradara jika diperlukan !
Lalu bagaimana mensiasati hal tersebut ? ada suatu bentuk system kerja yang patut dijadikan bahan studi banding, yakni sudah seharusnya para Executive Producer /Producer benar benar menseleksi crew list yang akan dipanggil. Problema disini adalah begitu job confirmed, banyak dari mereka melepaskan pemilihan crew kepada unit manager, atau level level bawahnya lagi sehingga tak ada kontrol seleksi. Sudah semestinya para produser berdiskusi dengan sutradara atau DOP mengenai kebutuhan crew yang ideal. Wajarkah kita membutuhkan 4 lightingman untuk sebuah shooting simple di studio ? mungkinkah jika seorang video tape recorder digabung dengan seorang loader ? bisakah seorang production manager juga berfungsi sebagai unit manager ?. Dalam sebuah produksi di luar negeri, kerap dilakukan seorang produser meminta seorang crew lain di lapangan yang tidak sedang bekerja untuk misalnya membawa barang barang wardrobe, bahkan crew harus membuat teh dan kopi sendiri di pojok ruangan, sehingga tak ada tenaga PU yang hilir mudik membawa makanan kecil dan the kopi. Lalu kedua adalah pre production yang matang, yang hampir mustahil dilakukan di sini dengan meminta para crew terkait untuk duduk datang mendiskusikan apa saja yang perlu dilakukan terhadap sebuah shooting board. Disana sebelum syuting seorang gaffer, camera assistant sudah ikut bersama DOP untuk menganalisa situasi lokasi dan peta work flow, sehingga ia sudah tahu dimana tempat meletakan lampu, kamera dsb. Sementara di sini seorang DOP praktis baru memberikan perintah kepada crew pada pagi hari di lokasi shooting.
Sudah saatnya kita duduk bersama untuk mensiasati masalah efiesnsi tenaga kerja dalam sebuah shooting, tentu saja dengan tidak mengorbankan kualitas sebuah produksi. Jika hal ini bisa dibereskan akan menjadi mata rantai yang pada akhirnya menguntungkan sebuah produksi. Dari pada menambah dana untuk tambahan konsumsi dan pekerja yang tidak jelas, lebih baik dialokasikan menambah peralatan, art departemen, props. Tentu saja sutradara juga lebih senang bekerja dengan situasi tenang dan terkontrol, dan yang paling penting produser bisa lebih kompetitif dalam membuat sebuah angka produksi.