Kongres I dari Asosiasi Pekerja Film Iklan Indonesia terselenggara dengan sukses Edisi: February 2006
[Posting: 26-February-2006 19:10]
Oleh: Panji Kusmin (Reporter APFII)
Setelah menempuh jalan panjang yang berliku , Kongres pertama dari Asosiasi Pekerja Film Iklan Indonesia, dapat diselenggarakan dengan sukses pada hari Minggu, 26 February bertempat di Gedung Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki – Jakarta Pusat. Kongres yang diiikuti oleh kurang lebih 300 orang pekerja film iklan Indonesia, berhasil memilih ketua umum Asosiasi Pekerja Film Iklan Indonesia ( APFII ), yakni Iman Brotoseno dalam pemilihan yang berlangsung meriah dan tak menegangkan, dengan mengalahkan kandidat lainnya, yakni Somad Sutedja dengan angka mutlak. Acara yang dimulai dari pukul 10 pagi ini, juga dimeriahkan oleh pameran dan bazaar. Serta tak kalah meriahnya adalah hiburan band musik dari para pekerja film, dengan jam seassion bergantian secara spontan membuat acara Kongres ini jauh dari kesan yang serius dan membosankan. Tampak disela sela undangan beberapa tokoh periklanan nasional seperti Soebiakto P dan ketua PPPI, Narga Habib, juga perwakilan dari KFT ASI ( Karyawan Film Televisi Asosiasi Sineas Indonesia ) dan TV Club.
Ketua Panitia Penyelenggara Kongres APFII, Paquita Widjaya mengatakan bahwa acara ini bisa terselenggara terutama karena partisipasi serta dukungan dari berbagai belah pihak yang masih peduli dengan industri film iklan di Indonesia. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa asosiasi ini diikuti oleh seluruh lapisan produksi yang terlibat dalam pembuatan film iklan mulai dari sutradara, produser, kameramen, art director, wardrobe stylish, unit unit crew dan produksi, sampai make up artist, food stylish, editor paska produksi sampai pembuat jingle telah membuat lompatan sejarah yang akan menentukan hidup matinya industri film iklan dalam negeri sebagai bagian dari industri film iklan nasional. Disela sela kesibukannya mengawasi registrasi peserta kongres, Paquita menambahkan bahwa mereka para pekerja film iklan yang tidak hadir hari ini, tetap memberikan komiten untuk bergabung dengan asosiasi. Ini adalah bentuk kebersamaan yang harus dibina dan dipelihara dalam semangat solidaritas pekerja film.
Dalam sambutan pembuka sebagai salah satu pimpinan sidang, sutradara iklan terkemuka Ipang Wahid mengatakan, di masa silam sejak TV swasta berdiri tahun 1989 banyak pertanyaan mengapa industri film iklan yang justru merupakan salah satu bidang sumber pekerjaan yang akumulasi modalnya sangat besar, justru tidak ada asosiasi atau organisasi yang mengaturnya. Fenomena industri film iklan ini memang seperti “ anak tiri “ di dalam struktur industri film nasional. Mengherankan justru di RUU Perfilman nasional yang baru, justru film iklan tak pernah disebut secara tegas eksistensinya. Mungkin ada yang beranggapan bahwa film iklan sebagai bagian dari dunia periklanan global masuk dalam kategori pemasaran. Hal ini bisa terjadi karena mungkin ketidaktahuan para petinggi atau pembuat kebijakan di negeri ini akan industri film iklan, sehingga menurut Ketua KFT ASI Enisson Sinaro, sudah selayaknya ada perwakilan dari pekerja film iklan yang akan duduk bersama komunitas film lainnya dalam pembuatan RUU Perfilman nasional yang sedang digodok di DPR. Terlebih dengan adanya suara suara yang menghendaki industri film nasional khususnya periklanan harus dibina dan dillindungi oleh Pemerintah, terutama dengan klausul dalam pasal 11, dari UU No 8 tahun 1992 tentang perfilman nasional, bahwa perusahaan film wajib menggunakan kemampuan nasional yang tersedia, meliputi sumber daya, baik manusia , potensi maupun fasilitas yang tersedia di Indonesia. Sehingga dalam pelaksanaan kongres ini, pemikiran mengenai pengaturan industri film iklan nasional, khususnya tenaga kerja asing menjadi issue utama, yang bahkan berkembang suara suara bahwa asosiasi akan menjadi salah satu gerakan aliansi anti asing.
Dalam kata sambutannya ketika terpilih sebagai ketua, Iman Brotoseno menegaskan bahwa Asosiasi Pekerja Film Iklan Indonesia bukan sebagai alat “ pressure “ terhadap issue issue tenaga kerja asing yang yang marak di dunia perfilman iklan Indonesia. Masih banyak lembaga yang berkompeten terhadap issue issue ini seperti Departemen Tenaga Kerja, Imigrasi maupun lembaga terkait lainnya. Sambil menunjuk kepada Isaac Wee , salah satu sutradara iklan terkemuka berkebangsaan Malaysia yang berdomisili di Indonesia, yang juga hadir hari itu, bahwa sepanjang seorang pekerja asing bisa membuktikan aspek legalitas bekerja dan berdomisili, serta tak melanggar ketentuan perundang undangan yang berlaku, disamping orang yang bersangkutan bisa memberikan manfaat serta kontribusi yang besar bagi industri film iklan Indonesia. Maka bisa saja orang tersebut menjadi anggota asosiasi sebagai anggota luar biasa. Dalam program kerjanya ke depan, masih banyak hal hal yang harus dibenahi oleh APFII daripada mengurusi masalah tenaga kerja asing ( illegal ), seperti pendidikan dan pelatihan yang meningkatkan profesionalisme , mensosialisasikan keberadaan komunitas ini terhadap lembaga lembaga lain dan Pemerintah lalu tak kalah penting bagaimana meningkatkan kesejahteraan anggota seperti perlindungan hukum dan jaminan asuransi keselamatan kerja.
Memang banyak harapan yang dibebankan kepada Asosiasi ini, dan yang paling utama adalah bisa memberi manfaat yang sebesar besarnya bagi anggota. Sebuah pekerjaan rumah yang tidak mudah, tapi dengan dukungan semua pihak, Asosiasi akan menjadi rumah pengayoman bagi pekerja film iklan nasional. Selamat datang APFII dan selamat bekerja Iman !